Susahnya Menjadi Pendiam

Bersyukurlah kalian yang ditakdirkan memiliki intonasi suara yang pelan, tidak keras sepertiku yang kalau bicara bisa membuat pak RT keluar rumah dan menyambangiku karena mengganggu tidur siangnya. Biarpun suaraku masih kalah dengan orang suku Batak yang konon katanya memiliki intonasi suara yang dahsyat tapi tetap saja aku merasa intonasiku membuatku kurang nyaman. Bukan berarti aku tidak mensyukuri apa yang diberikan Tuhan padaku, tapi mengeluh pada kekuranganku dan bermaksud untuk melakukan perubahan pada intonasi suaraku menjadi sedikit lebih rendah mungkin tidak akan membuat Tuhan marah khan.
Bersyukurlah kalian yang bisa memiliki sifat pendiam. Diam ketika tenang, tenang ketika ramai. Tidak sepertiku yang terlalu rame. Memang ada enaknya menjadi rame, tapi tidak semua orang dan semua situasi yang membutuhkan orang rame sepertiku. CEREWET !! Mungkin hampir semua orang yang mengenalku selalu beranggapan seperti itu. Entah kenapa rasanya sangat susah menahan diri untuk sedikit berbicara. Tetap saja mulut ini terus berbicara lagi, lagi, dan lagi. Aku sadar orang yang kuajak bicarapun terkadang jengah dengan sifatku yang seperti ini. Sangat tidak jarang ketika seseorang membutuhkanku hanya untuk “mendengarkan”, namun yang kulakukan malah sebaliknya, membuatnya yang menjadi “pendengar”.
Menulis di blog merupakan salah satu bentuk pelarianku yang bisa dibilang tidak begitu manjur. Aku berusaha menekan hobi berbicaraku menjadi menulis. Dengan menulis aku bebas mengutarakan apa saja tanpa perlu kuatir orang yang kuhadapi akan jengah, karena kenyataan bahwa tulisan-tulisanku mungkin tidak ada yang dibaca orang, namun setidaknya aku lega bisa menumpahkan semuanya.
Terkadang aku bisa mengontrolnya,namun tidak lama, dalam sekejap aku langsung mengambil alih semua kendali aktivitas obrol-mengobrol. Susah !! Menjadi pribadi yang pendiam. Membuatku iri pada sebagian orang yang jarang bicara namun bila sekali bicara bisa menjadi sangat dalam, dihormati, dan didengarkan. Terkadang terlintas di pikiranku : “Kenapa lidahku hampir seperti cewek??”, Bukan berarti juga nih aku menyatakan bahwa semua cewek cerewet, tapi khan sudah kodratnya gitu?? (menurutku aja sih)
Pengen jadi pendiam. Selalu berkata pada diri sendiri : “Don’t say a word, Gus”. Tapi tetap saja. Susah. Halah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s